Selamat Datang di Catatan Perjalan Si Tukiang Tipu

Semua orang memiliki cerita dalam hidupnya termasuk saya dan ini cerita saya seorang penipu yang suka jalan-jalan :)
Tampilkan postingan dengan label Heritage Explore. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Heritage Explore. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Juli 2011

#CSIF2011 Bandung Heritage Walk - Menyusuri Jejak Sejarah Kota Bandung Part-I

#CSIF2011 Berani Berbagi.

CouchSurfing Indonesia Festival atau CSI Festive merupakan hajatan besar CouchSurfing Indonesia dalam rangka ajang silaturahmi yang mempertemukan para CouchSurfers se-nusantara dan bahkan banyak pula peserta yang hadir dari negara lain.

Masih terekam dengan jelas kenangan dan pengalaman luar biasa ketika mengikuti CSI Festive 2010 terutama perjuangan bersama kawan-kawan CS'ers Bandung dari mulai membuat konsep acara,Latihan menari,latihan bermain angklung,menyusun booklet sampai akhirnya sukses menginvasi Jakarta,menggoyang monas dengan tari jaipongan dan salsa.

Setelah sukses dengan CSI Festive 2010 yang mengusung tema "Buka Pintu Silaturahmi Indonesia" serta berhasil mempertemukan para CouchSurfers dari berbagai kota di Indonesia dan beberapa negara selama seminggu penuh di Jakarta dalam sukacita dan persahabatan.

Tahun ini kembali diselenggarakan CouchSurfing Indonesia Festival #CSIF2011 dengan mengusung tema berani berbagi,konsep di tahun ini sedikit berbeda dengan tahun sebelumnya dimana lokasi acara di laksanakan di dua kota yaitu Jakarta dan Bandung.


Tema "Berani Berbagi" yang di usung pada penyelenggaraan CSI Fetive tahun ini bak sebuah Quo Vadis bagi kita semua terutama bagi diri gue sendiri ketika kondisi hidup semakin membentuk manusia menjadi individualis dan egosentrisme merajalela CoushSurfing mengajak setiap lapisan masyarakat untuk berani berbagi sesuai semangat yang menjadi fondasi komunitas ini dan hasilnya luar biasa banyak sekali individu,komunitas dan perusahaan yang berani berbagi.
Berarti semangat untuk berbagi masih ada.


Dalam tulisan ini gue mau berbagi pengalaman mengikuti salah satu rangkaian #CSIF2011 yaitu Bandung Heritage Walk.


Foto-foto dalam tulisan ini di ambil dari koleksi milik Dion (Yogyakrta) dan Phebe Wibisana (Bandung) atas seizin mereka sebagai pemilik foto.

Saatnya Berbagi.

Sebenarnya gue gak termasuk dalam bagian dari tim CSI Festive Bandung,karena memang gue gak pernah sekalipun nunjukin batang hidung gue selama kawan-kawan CS'ers Bandung sibuk mempersiapkan acara.Gue cuma menjadi penonton dan ngikutin mereka "bergerilya" di dunia maya.Gue cuma diem dan gak bertindak,bersembunyi di balik berbagai alasan masalah pribadi,padahal kawan-kawan gue disana mau berbagi waktu,tenaga,dan pikiran di tengah kesibukan dan urusan pribadi mereka.
Yaa...mendukung dalam doa saja sudah cukup pikir gue saat itu karena ada istilah "Kuasa doa itu lebih dahsyat" hehehe... *ngeles mode on.

Namun suatu saat...

Sore hari di kala Bandung lagi di guyur hujan deres,gue mutusin untuk dateng ke acara "Angklung Time" di Braga City Walk,yang merupakan salah satu rangkaian acara CSIF 2011 di Kota Bandung.
Alasannya sederhana supaya bisa ikutan berbagi..berbagi waktu gue sebagai penonton acara tersebut :D

Tetapi ternyata eeee...ternyata pas ketemu sama saudara Andhika Panduwinata alias Pandu gue malah di minta untuk jadi guide acara Bandung Heritage Walk besoknya.
Padahal niatnya gue cuma mau dateng hari itu saja sebagai penonton.

hhmmm....

Tanpa pikir panjang akhirnya gue memutuskan untuk menerima tawaran dari pandu sebagai guide,mungkin ini saatnya bagi gue untuk berani berbagi secara nyata tidak hanya sebagai penonton atau “pendoa”.Ibarat moto hidupnya Santo Benediktus “Ora et Labora” “Berdoa dan Bekerja” tidak cukup hanya “Ora” tapi juga harus bertindak.

Sesampainya di rumah dengan sok tahu gue langsung buka-buka catatan Bandung Heritage Explore tahun lalu bersama Yasiraty Ilyas (Alm),Oky Dwi Oktapianty, dan Sonnens Vamberaldy dalam rangka membuat CSI Festive booklet dengan harapan bahwa apa yang akan jadi agenda acara besok sama dengan bayangan gue.

Tetapi tengah malam ada SMS masuk dari Pandu yang mengatakan bahwa rute yang akan di tuju adalah “Jejak 10 stilasi Bandung Lautan Api”..Jleeggg...sontak gue harus surfing tengah malam mencari sumber sejarahnya untungnya gue pernah mempelajari mengenai 10 stilasi Bandung Lautan Api,sehingga gue gak begitu kesulitan.


Dan Perjalanan Panjangpun di mulai...

Bangun pagi ku terus mandi
Tidak lupa menggosok gigi
...

Pagi hari jam.05.30 gue bangun dan langsung masuk ke kamar mandi menyelesaikan ritual di kala sang surya terbit. Gak biasanya gue bangung sepagi ini karena sepanjang hidup gue 2 bulan terakhir baru bisa benar-benar mata melek itu kalau sudah lewat jam 10.00.
Selesai mandi gue harus buru-buru masak mie instan untuk sarapan dan berangkat awal berhubung rumah gue berada di pinggiran Bandung dan butuh waktu satu jam untuk sampai tempat meeting point di Balaikota Bandung.

Naik Kereta Api
Tutt...tutt..tutt..
Siapa hendak turun
Ke Bandung ... Surabaya
Bolehlah naik dengan percuma

Ibarat lagu sewaktu masih kecil,begitu lah keadaan gue berguncang di dalam kereta komuter menuju “Bandung” yaa... menuju Bandung karena gue orang Kabupaten Bandung :D
Yang jadi pertanyaan gue adalah sejak kapan kita “bolehlah naik dengan percuma” karena pada kenyataannya apabila kita kedapatan gak bayar alias kagak punya tiket bisa di denda tiga kali lipat harga tiket atau di turunkan secara tidak hormat.

Jam.09.20 menit acara "Bandung Heritage Walk" siap di mulai telat 20 menit dari rencana semula karena menunggu beberapa peserta yang belum muncul juga sampai pukul 09.00 tapi positifnya sebagian peserta bisa saling mengakrabkan diri satu sama lain dan sarapan dulu bagi yang tidak sempat mengisi perutnya dari rumah,repot juga kalau ada yang pingsan gara-gara kelaperan.
Gue sempat terdiam sejenak ternyata gue gak dapet fasilitas pengeras suara alias "TOA" dari si empunya acara yaitu Andhika Panduwinata (Pandu) dan Sufi Hamdan Mazida (Sufi) berarti gue harus teriak-teriak untuk bercerita kepada 23 orang peserta.


Bandung Heritage Walk

Secara umum gue membagi acara Bandung Heritage Walk hari itu menjadi kedalam dua bagian yang pertama adalah menjelajahi tempat - tempat heritage pada masa Bandung di bawah "asuhan" toean-toean dan njonja-njonja Belanda dan Bandung pada masa pasca kemerdekaan melalui penelusuran 10 stilasi Bandung Lautan Api.

Apa itu "10 stilasi Bandung Lautan Api"?
yaitu merupakan 10 monumen yang di bangun pada tahun 1997 oleh Komunitas Bandung Heritage yang melambangkan 10 titik "perhentian" dalam sejarah Bandung Lautan api.

Kira-kira seperti ini bentuknya tapi tanpa gelas pelastik tentunya

(Salah Satu stilasi Bandung Lautan Api Sumber Foto : Dion)
Nah...inti dari acara ini sebenarnya adalah menelusuri kesepuluh titik stilasi tersebut tapi gue memutuskan untuk tetap mengunjungi tempat-tempat heritage lainnya yang kebetulan satu arah dengan rute Bandung Trail.Itung-itung sekalian menambah wawasan tentang sejarah Kota Bandung.


Gedung Balai Kota Bandung

Tempat heritage yang pertama di kunjungi adalah meeting point sekaligus start point kami yaitu Balai Kota Bandung yang dahulunya merupaka gudang kopi.Dibangung pada tahun 1819 oleh Gubernur Van Den Cappelen atas usul dari seorang asisten residen bernama Dr.Andreas De Wilde,tetapi ada sumber sejarah lain yang mengatakan bahwa Gedong Papak (sebutan bagi balai kota yang artinya gedung datar) sudah berdiri sejak tahun 1810 ketika Bupati Bandung kala itu R.A.A Wiranata Kusumah II memindahkan pusat pemerintahan dari Dayeuh Kolot ke daerah di sisi sungai Cikapundung.

Setelah Bandung berubah status menjadi Gemente pada 1 April 1906 gudang kopi tersebut beralih fungsi menjadi Balai Kota yang di gunakan sampai sekarang.

(Sumber Foto : Dion)
Selain itu simbol dari gedung balai kota adalah patung badak putih yang berada di "Pieterspark" demikianlah dahulu taman balai kota diberi nama sebagai ungkapan terima kasih kepada walikota Bandung saat itu Pieter Sitjhoff yang sukses membangun kota Bandung,sekarang taman balai kota bernama taman Dewi Sartika tetapi orang-orang masih banyak yang menyebutnya dengan taman badak sesuai dengan sang badak yang tak lelah berdiri dengan gagahnya melalui berbagai masa.

Sebelum meninggalkan balai kota menuju tempat selanjutnya para peserta berfoto di depan patung badak putih sebagai ikon tempat itu.

(Patung Badak Putih Sumber Foto : Dion)
Jreenngg...Jrreeennggg ketika tengah asik berfoto ria tiba-tiba ada petugas Satpol PP menghampiri kami karena kami di sangka sedang berdemo hehehe.

Selesai berfoto setiap peserta dibagikan 10 eksemplar booklet CSI Festive 2011 untuk di berikan kepada masyarakat yang kami temui di sepanjang perjalanan dan yang paling utama para peserta mendapatkan sebotol "Nu Green Tea" sebagai senjata ampuh untuk penyegar dan pelepas dahaga di cuaca Bandung yang cukup panas.


( Bekal Nu Green Tea Sumber Foto : Dion)
Saatnya berangkat menuju titik perhentian berikutnya,siap-siap mata pegel yeee...baca tulisan gue seperti kita semua yang pegel jalan kaki 8 jam dari Balai Kota sampai Moch.Toha.


(Menuju Katedral Bandung Sumber Foto : Dion)
Gereja Katedral Santo Petrus

Selanjutnya kami mengunjungi Gereja Katedral Santo Petrus di Jalan Merdeka yang hanya berjarak lima menit dengan berjalan kaki dari meeting point di Balai Kota.
Gereja Katedral merupakan gereja katolik kedua di Kota  Bandung sebagai pengganti Gereja Santo Fransiscus Regis yang sudah tidak sanggup lagi menampung umat katolik yang saat itu sudah mencapai 1800 orang.
Maka di bangunlah Gereja Santo Petrus di Jalan Merdeka pada tahun 1921 dan di berkati pada 19 Februari 1922 oleh Mgr.Petrus Luypen yang menjabat Vikaris Apostolik Batavia saat itu.
Gereja tersebut di persembahkan kepada Santo Petrus yang merupakan nama baptis dari Beliau.

( Berfoto di Depan Katedral Sumber Foto : Dion)

Gereja Katedral Bandung di rancang oleh seorang arsitek terkenal yaitu Ir.C.P Wolf Schoemaker (siapanya Michael Schoemaker yaa...hehehe) yang di perjalan kita nanti akan menemukan lagi beberapa karya dari Oom Schoemaker ini.

Untuk Artikel lebih lengkap mengenai Gereja Katedral Bandung silahkan KLIK DISINI

Namun sayang seribu kali sayang...kita gak berhasil mendapatkan izin untuk masuk kedalam ruangan Gereja Katedral di karenakan sedang proses "bersih-bersih" sehabis di gunakan acara konser paduan suara malam sebelumnya.
Jadi untuk kali ini kami gak bisa menikmati keindahan salah satu karya dari Oom Wolf Schoemaker.


Ya...Sudah perjalanan pun di lanjutkan.


GPIB Bethel dan Gedung Indonesia Menggugat

Berjalan ke arah Jl.Perintis Kemerdekaan di sudut antara Jl.Wastu Kencana terdapat Gereja Protestan tertua di Bandung.
Pada saat itu untuk melengkapi kawasan civic centre pemerintah kolonial membangun berbagai fasilitas publik di kawasan Balai Kota dengan Javashe Bank (Gedung BI ), Sekolah dan gereja baik untuk katolik maupun protestan.

(Gereja GPIB Bethel Sumber Foto : Dion)
Gereja yang di asuh oleh Indische Protestant Kerk di bangun pada tahun 1924 yang lagi-lagi arsitekturnya di rancang oleh Ir.C.P Wolf Schoemaker alias Oom Schoemaker.
Nama Bethel sendiri baru di pergunakan pada tahun 1964 dan sekarang gereja ini merupakan jemaat dari Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat (GPIB).

Bergeser sedikit tepat di belakang Gereja Bethel terdapat sebuah bangunan yang sangat bersejarah,tetapi banyak orang yang tidak tahu mengenai bangunan tersebut.
Gedung Indonesia Menggugat demikianlah nama bangunan itu berada di balik pohon beringin yang rindang, pada tahun 1930 Soekarno muda membacakan pledoinya untuk memperjuangkan harkat dan martabat kemanusiaan di hadapan pengadilan kolonial ( Lanraad) bersama Maskoen,Gatot Mangkoepradja,Soepriadinata,Sastromolejono dan Sartono.

(Gedung Indonesia Menggugat Sumber Foto : Dion)
Sekarang Gedung Indonesia menggugat di pergunakan sebagai ruang publik seperti pertunjukan musik,peluncuran buku,diskusi buku,pameran karya seni dan berbagai macam kursus.

Mari kita melanjutkan perjalanan kembali...

Monumen Tentara Pelajar dan Laskar Pejuang Wanita

Matahari semakin terik dan membakar kulit para peserta,tetapi kami masih bersemangat untuk melanjutkan penjelajahan yang belum mencapai seperempat perjalanan pun...

Selanjutnya kami mengunjungi dua patung pejuang yang berada di antara jembatan kereta api Viaduct yaitu monumen Tentara Pelajar dan Laskar Pejuang Wanita (LASWI).
Kedua monumen ini erat sekali kaitannya dengan peristiwa Bandung Lautan Api karena mereka ikut berkiprah dalam perjuangan mempertahankan Kota Bandung dari tentara sekutu.

(Monumen Tentara Pelajar Sumber Foto : Phebe Wibisana)


Kedua monumen tersebut di rancang oleh seorang seniman bernama Sunaryo yang juga merancang 10 stilasi Bandung Lautan Api.
Berbicara mengenai jembatan kereta api viaduct ternyata mempunyai peran juga ketika masa pendudukan Bandung oleh tentara NICA yang memicu peristiwa Bandung Lautan Api.
Perannya adalah sebagai pembatas permukiman warga pribumi di selatan dan warga Eropa di utara ini terjadi setelah insiden berdarah di Lengkong pada 25 November 1945.

(Jembatan Kereta Api Viaduct)


Mengenai sejarah insiden Lengkong bakalan gue ceritain di bab stilasi Bandung Lautan Api.
jadi tunggu aje yeee..!!

Foto dulu ahhh depan Monumen Laskar Pejuang Wanita Indonesia.


(Monumen Laskar Wanita Indonesia Sumber Foto : Dion)


Me and My Nu Green Tea

Memasuki kawasan Braga badan mulai lelah,haus,keringat bercucuran dan volume suara nyaris    berkurang.Gue butuh minuman yang bisa bikin gue kembali segar dan tetap semangat memandu (Sorry nama lo,gue sebut-sebut ya ndu hehehe)  peserta Bandung Herita Walk sampai tuntas.Di kala haus semakin mendera mata gue langsung berbinar melihat senyum sumringah kawan-kawan yang sedang asik ngobrolin Nu Green Tea mereka.

(Nu Green Tea Sumber Foto : Dion)
Yaa....Gue inget kalau gue punya senjata ampuh untuk menyegarkan diri di kala panas terik.Tanpa pikir panjang gue langsung buka tutup botol Nu Green Tea gue yang masih di segel rapat dan gue nikmati setiap aliran Nu Green Tea rasa madu melewati kerongkongan gue.

(Me and My Nu Green Tea)

Sekarang badan gue udah seger lagi,haus hilang dan kembali semangat berkat Nu Green Tea.
Ayooo....kita lanjutkan kawan!!!

Dari Pedatiweg sampai Bragaweg


Sampailah kita di jalan paling legendaris di Bandung karena di jalan inilah berbagai julukan untuk Kota Bandung muncul.
Yaa...betul jalan tersebut adalah jalan Braga,mungkin namanya sudah tidak asing lagi bagi para pelancong domestik dan internasional yang berkunjung ke Kota Bandung.

Jalan Braga berawal dari sebuah jalan kecil,gelap dan becek di depan permukiman warga saking sepinya orang-orang menjuluki jalan Braga dengan sebuan jalan culik.
Pada awal tahun 1900 jalan Braga di kenal dengan sebutan Pedatiweg atau jalan pedati,karena jalanan tersebut di lalui oleh pedati yang mengangkut berbagai macam hasil bumi. 

Memasuki era 1920-1930'an merupakan masa kejayaan jalan Braga,yang asal mulanya hanya sebagai jalan sempit dan becek Braga berubah menjadi kawasan komersial dan hiburan di tandai dengan di bukanya berbagai toko fashion,bar dan restoran.

(Jalan Braga Sumber Foto : Phebe Wibisana)


Nah...dari Braga lah Bandung di juluki dengan istilah Paris Van Java karena pada saat itu Bandung jadi pusat mode Hindia Belanda bahkan Asia Tenggara.

Seperti apa Braga sekarang?
Tetap menjadi kawasan komersial dan hiburan seperti fungsinya pada masa lalu,namun selain itu Braga juga merupakan kawasan heritage di Bandun karena banyak terdapat bangunan-bangunan kuno yang sebagian besar masih berfungsi sampai sekarang.

(Salah Satu Bangunan tua di Braga Sumber Foto : Dion)
Kalau yang mau tahu lengkapnya mengenai Jalan Braga silahkan KLIK DISINI

Menikmati Hidangan Kolonial di Sumber Hidangan

Saatnya mengganjal perut...
Mie instant yang gue makan pas waktu sarapan sudah terkuras menjadi keringat.
Jadi gak ada salahnya mampir dulu ke Sumber Hidangan yang masih ada di kawasan Braga.
Ibarat Malang memiliki Toko Oen di Bandung juga punya.
Sumber Hidangan menyajikan berbagai macam roti,kue,dan es krim khas masa kolonial.
Sumpah ini tempat Djadoel banget dari mulai bangunan,alat yang di gunakan sampai pelayan toko pun ikutan Djadoel kalau gak percaya ini buktinya.

(Sumber Hidangan Foto : Dion)
Sumber hidangan sudah berdiri sejak tahun 1929 dengan nama Het Snoephuis atau "Rumah Jajan",pada masa itu sumber hidangan merupakan tempat para serdadu Belanda dan Pegawai kelas menengah Belanda menikmati berbagai macam roti,kue dan es krim.

( Roti dan Kue di Sumber Hidangan Foto : Dion)
Hampir semua nama roti,kue dan es krim disini ditulis dengan berbahasa Belanda yang bikin tenggorokan kita seret ketika mengucapkannya.

Urusan harga jangan khawatir pas di kantong dan pas di hati untuk roti berkisar antara Rp.2500 - Rp.15.000 dan Es Krim Rp.13.000-Rp.17.000. KLIK DISINI

Selesai menikmati berbagai macam hidangan berfoto sejenak dan melanjutkan perjalanan...

(Sumber Foto : Dion)


Perut kenyang wajah kembali ceria hehehe...

Bersambung ke Bab  2 yeee...
Sampai Jumpa lagi.

Kamis, 21 Juli 2011

Menelusuri Jejak Sejarah Tatar Sunda di Museum Sri Baduga

Terletak di Jalan BKR No.185 Bandung tepatnya di depan Monumen Bandung Lautan Api (BLA) atau yang oleh penduduk Bandung di namakan lapangan Tega Lega,terdapat Museum Negeri Provinsi Jawa Barat atau yang lebih di kenal dengan sebutan Museum Sri Baduga.

(Bagian Depan Museum Sri Baduga)
Museum Sri Baduga merupakan satu-satunya museum yang di miliki dan di kelola oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat,karena museum lainnya yang terdapat di Kota Bandung seperti Museum KAA,Museum Geologi dan Museum Mandala Wangsit di kelola oleh Departemen Luar Negeri,Departeman ESDM dan KODAM Siliwangi.

Meseum Sri Baduga didirikan pada tahun 1970 di bangunan bekas gedung kewadanaan Tega Lega dan diresmikan penggunaanya pada tahun 1980 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada saat itu, Prof.DR.Daoed Yoesoef.
Sri Baduga sendiri diambil dari nama gelar seorang raja Pajajaran Sri Baduga Maha Raja (Ratu Jayadewata) yang memerintah antara tahun 1474 - 1531.

Ketika kita memasuki Museum Sri Baduga kita seperti diajak berpetualang melihat sejarah perkembangan Jawa Barat dan Bandung di masa lampau dan masa sekarang karena museum ini memiliki berbagai benda koleksi yang menjelaskan sejarah tatar parahyangan dari masa prasejarah,masa kerajaan,masa kolonial dan masa sekarang.Selain itu museum ini juga memiliki berbagai koleksi mengenai kebudayaan di Jawa Barat.

(Koleksi Sejarah Geologika atau Geografika)
Koleksi di museum sri baduga di bagi kedalam beberapa jenis dan ruang pamer diantaranya :
- Geologika/Geografika
-Biologika
-Etnografika
-Historika
-Numismatika/Heraldika
-Filologika
-Keramologika
-Seni Rupa
-Tekhnologika

Dibagian ruangan sayap kanan kita bisa menyaksikan sejarah terbentuknya Jawa Barat dan Bandung dari semula berbentuk gunung berapi sunda,danau purba Bandung,sampai sekarang menjadi sebuah kota. Setelah menikmati pemaraparan terbentuknya geografi Jawa Barat kita disambut dengan pemaparan mengenai hewan - hewan has Jawa Barat.

(Replika Gua Batu Manusia Purba)
Salah satu peninggalan sejarah dan kebudayaan di Jawa Barat adalah peninggalan masa prasejarah berupa kerangka manusia purba yang pernah tinggal dan hidup di sekitar Jawa Barat ada juga peninggalan berupa sarkofagus dan kubur batu.Peninggalan-peninggalan tersebut banyak ditemukan disekitar gunung yang mengelilingi Kota Bandung,yang menguatkan pernyataan bahwa dahulu Bandung merupakan sebuah danau purba dan dipinggir danau tersebut terdapat kehidupan.

(Arca Peninggalan Masa Kerajaan Hindu dan Budha)
Seperti diketahui bahwa di Indonesia pernah mengalami masa kerajaan Hindu dan Budha begitupun di Jawa Barat.Menurut sejarah pernah berdiri beberapa kerajaan Hindu di tatar sunda seperti kerajaan Tarumanegara,Pajajaran,dan Galuh Pakuan,hal ini dibuktikan dengan peninggalan arca-arca dewa Siwa salah satu dewa sembahan para penganut Hindu yang ditemukan di sekitar Tasikmalaya.
Salah satu bukti bahwa di tatar sunda pernah berdiri kerajaan hindu bisa kita lihat peninggalannya berupa Candi Hindu di Kampung Pulo wilayah Cangkuang,Kec.Leles - Garut yang merupakan satu-satunya situs candi hindu di yang ditemukan di Jawa Barat.

Dilantai dua bangunan kita akan disajikan berbagai koleksi kebudayaan di Jawa Barat sepeti masuknya kebudayaan Cina berupa alat-alat pemujaan,Kebudayaan Islam berupa Kitab Suci Alquran, masuknya agama Kristen berupa lonceng gereja,teks alkitab berbahasa melayu dan batu nisan yang di temukan di Dayeuh Kolot,dan perkembangan masyarakat agraris di tanah sunda.

( Dapur Tradisional Sunda)
Salah satu hal yang menarik di Museum Ini adalah terdapatnya berbagai macam koleksi kebudayaan asli Jawa Barat berupa model bentuk rumah asli tatar sunda,baju pengantin dari berbagai daerah di Jawa Barat,diorama upacara adat,alat-alat pertanian dan perikanan,furniture dan dapur tradisional.Benda-benda tersebut mungkin sudah sulit untuk kita temui di masa sekarang ini.

Museum Sri Baduga buka setiap hari dari mulai Pukul 08.00 - 15.00 kecuali pada hari libur nasional museum tutup.
Harga tiket sangat terjangkau Dewasa/Mahasiswa Rp.2000,Anak-anak/Pelajar Rp.1000,Rombongan lebih dari 40 orang diskon 10%.
Dengan hanya Rp.2000,00 kita sudah bisa menyelami keunikan sejarah dan kebudayaan bangsa,jadi jangan ragu untuk berkunjung ke museum yang ada di kota kita,karena dengan memasuki museum kita seolah-seolah diajak kemasa lampau dan menyelami seluk beluk kebudayaan serta ilmu pengetahuan.
Mari kita ikut terlibat dalam program “Tahun Kunjungan Museum” Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia dan ikut serta menjaga kelestariannya.


Jalan Asia Afrika dan Museum Konferensi Asia Afrika

Saksi diplomasi Bangsa Indonesia di mata Dunia

Tidak jauh dari Sumber Hidangan dengan 5 menit menyusuri Jalan Braga setelah menyebrangi Jalan Naripan kita akan menemukan Jalan Asia Afrika,yang merupakan salah satu Jalan paling bersejarah di Kota Bandung,Indonesia dan bahkan di mata dunia. Karena di Jalan inilah di sebuah gedung bernama GEDUNG MERDEKA yang awalnya dikenal dengan nama gedung Societeit Concordia tempat para kalangan atas Belanda berkumpul,di laksanakan sebuah sebuah konferensi besar para pemimpin negara-negara di Asia Afrika antara tanggal 18 April - 24 April 1955,
yang menghasilkan 10 pernyataan penting dari ke 29 negara peserta di kenal dengan sebutan “Dasa sila Bandung” . 

(Tanda Jalan Asia Afrika)
Konferensi Asia Afrika tidak bisa dilepaskan dari sebuah bangunan megah dan anggun di sisi sebelah kanan jalan ini.

Gedung yang dahulu bernama “Societeit Concordia” dibangun pada tahun 1895 digunakan sebagai  tempat berkumpul dan berekreasi oleh sekelompok masyarakta Belanda yang berdomisili di Bandung.

Societeit Concordia mengalami pembangunan untuk kedua kalinya pada tahun 1921 dengan gaya art deco hasil rancangan Prof.Ir.Wolff Schoemaker.
Gedung ini berubah menjadi gedung pertemuan yang paling mewah,eksklusif dan modern di nusantara.

(Gedung Merdeka)
Pada tahun 1954 Pemerintah Republik Indonesia memilih Bandung sebagai kota dimana diselenggarakannya Konperensi Asia Afrika,maka Gedung Societeit Concordia digunakan tempat berlangsungnya konperensi tersebut dengan alasan gedung tersebut adalah tempat pertemuan paling besar dan megah di Bandung.

(Gong Perdamaian Negara-negara Asia Afrika di dalam Gedung Merdeka Foto By Yasirati Ilyas)
(Salah Satu Bagian Dalam Gedung Merdeka Foto By.Astri Haryani)
Selain itu posisinya yang berada di tengah kota dan berdekatan dengan Hotel Sayoy Homann dan Hotel Preanger,dan menjelang dilaksanakannya Konperensi Asia Afrika gedung ini berubah menjadi “Gedung Merdeka” yang masih bisa kita lihat sampai sekarang.

Museum Konferensi Asia - Afrika

(Bagian Depan Museum Konferensi Asia - Afrika)
Sebagai tempat penyimpanan dan panyajian benda-benda,hasil reportase beserta gambar-gambar saksi bisa di selenggarakannya Konferensi Asia Afrika (KAA) di bangunlah Museum Konferensi Asia Afrika (Museum KAA) di sebelah kanan Gedung Merdeka.

Museum KAA ini di resmikan pada tahun 1980 oleh Presiden Soeharto sebagai puncak peringatan 25 tahun penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika pada tahun 1955.
Museum Asia Afrika ini menyajikan berbagai benda dan gambar-gambar “saksi bisu” berlangsungnya rangkaian  sebuah pertemuan besar para pemimpin bangsa negara-negara di Asia Afrika ,dimulai dari peristiwa Tugu,Konperensi Kolombo,Konperensi Bogor dan sampai akhirnya pada pelaksanaan Konperensi Asia Afrika pada tahun 1955.

( Bola Dunia Yang terdapat di Bagian dalam Musem KAA)
Yang perlu di perhatikan bahwa di bagian pameran utama dari museum ini kita tidak di perkenankan untuk mengambil foto. Foto - foto yang kami ambil ini berada di bagian pintu masuk museum KAA dekat resepsionis,

(Replika Ketika Presiden Soekarno Berpidato)
Selain itu di Museum KAA ini juga terdapat perpustakaan untuk menunjang semua kegiatan museum.
Perpustakaan ini memiliki sejumlah koleksi buku mengenai buku-buku sejarah,sosial,politik dan kebudayaan negara-negara Asia Afrika serta negara-negara lainnya,dokumen-dokumen mengenai Konperensi Asia Afrika,dokumen-dokumen lanjutan konperensi serta majalah-majalah dan surat kabar.
Disalah satu bagian Museum KAA ini juga terdapat ruang audio visual sebagai sarana pemutaran film dokumenter mengenai kondisi dunia tahun 1950-an,konperensi Asia Afrika dan konperensi  
lanjutannya.

(Jam Buka Museum KAA)
Museum KAA buka setipa hari Senin sampai Jumat pukul 08.00 - 15.00
Istirahat 12.00 - 13.00
Sabtu 08.00 - 12.00
Masuk gratis tanpa dipungut biaya jadi jangan ragu untuk datang berkunjung.

Apabila kita beruntung bisa masuk ke ruang utama Gedung Merdeka kita bisa menyaksikan kemegahan dan kemewahan Gedung Societeit Concordia tempo dulu berupa lantainya yang terbuat dari marmer Italia.
(Museum Konferensi Asia Afrika)
Sudah selaknya kita patut berbangga hati sebagai warga negara Republik Indonesia karena ketika Republik ini baru menginjak usia 10 tahun,usia yang bisa di sebut masih kanak-kanak mampu menggetarkan dunia dengan berhasil menyelenggarakan Konferensi para pemimpin negara-negara Asia dan Afrika,sehingga Indonesia di pandang di kancah Internasional.


Semua bukti sejarah tersebut masih kita saksikan di Museum Konferensi Asia Afrika yang terletak di jalan bernama sama.


Menikmati Jajanan "Masa Kolonial" di Sumber Hidangan

Ingin menikmati makanan khas kolonial Belanda?berbagai macam kue dan es krim "jaman doeloe"?

Sumber Hidangan lah tempatnya yang masih berada di kawasan Jalan Braga.Di tempat ini saya bisa menikmati berbagai macam roti,kue,masakan, dan es krim khas masa kolonial dengan cita rasa Belanda yang sangat kental.Tak jarang saya mengajak serta keluarga dan sahabat untuk berkunjung dan menikmati berbagai sajian di Sumber Hidangan.


(Bagian Dalam Sumber Hidangan)

Suasana kuno langsung terasa ketika memasuki ruangan yang tidak terlalu besar ini,gaya arsitektur dan interior banguan tersebut masih di pertahankan dari sejak pertama kali di bukanya pada tahun 1929 dengan nama Het Snoephuis atau Rumah Jajan. Pada masa itu Sumber Hidangan atau Het Snoephuis di kenal sebagai tempat para Serdadu Belanda dan Pegawai Menengah Belanda menghabiskan waktu bersama keluarga dan kolega menikmati cemilan berbagai macam kue,roti dan es krim.

(Mesin Kasir Kuno yang masih terdapat di restoran Sumber Hidangan)
Salah satu keunikan yang masih dipertahankan di Sumber Hidangan adalah dalam proses pembuatan dan penyajian roti dan berbagai macam kue.Roti yang masih “Fresh from the oven” di bungkus dengan kertas berwarna cokelat yang sudah tidak banyak digunakan lagi pada umumnya.

(Frou-Frou Choc)

Hampir semua roti,kue dan es krim di tempat ini masih di tulis dengan bahasa Belanda seperti Frou-Frou Choc, Kreten Brood,Ananas tart,Chocolade Roostjer,Suiker Hageslag dan masih banyak lagi nama makanan yang sulit untuk di ucapkan.

Sumber Hidangan tidak hanya menyediakan kue,roti dan es krim khas Belanda,tetapi mereka menyediakan juga berbagai macam makanan khas Indonesia seperti nasi goreng,mie goreng dan sate.Bagi anda yang bergama Islam dan yang tidak memakan Babi anda harus sedikit teliti dalam membaca menu karena ada beberapa pastry yang menggunakan daging babi.


( Ice Cafe Glace dan Snow White)
Harga makanan di tempat ini cukup bervariasi dan sangat terjangkau.Untuk kue,roti dan es krim di jual dari harga Rp.2000,00 sampai Rp.15.000,00 untuk beberapa jenis roti khusus seperti roti kura-kura dan buaya di hargai Rp.75.000 - Rp.150.000 tergantung ukuran. Sedangkan untuk hidangan lain berkisar antara Rp.13.000,00 sampai Rp.50.000,00.
Hidangan yang paling banyak di beli orang para pengunjung adalah roti tawar spesial yang masih "fresh from the oven" berharga Rp.9.000,00 dan Nasi Goreng Udang berharga Rp.13.000,00 tapi jangan khawatir semua kue,roti,es krim dan masakan di tempat ini sangan lezat.

    (Berbagai macam Kue dan Pastry di Sumber Hidangan)
Satu lagi hal yang penting tempat ini sulit untuk ditemukan meskipun posisinya berada tepat di samping kiri Jl.Braga karena tidak memasang papan nama yang besar.Hanya ada tulisan “Sumber Hidangan d/h Het Snoephuis 1929″ tertempel pada kaca depan bangunan.

Untuk kawan-kawan yang sedang berada di Bandung atau berencana akan ke Bandung jangan ragu untuk mampir ke Jalan Braga dan menikmati makanan - makanan khas “Jaman Doeloe” di Sumber Hidangan.